Sekolah Dasar Negeri (SDN) 21 Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda
Aceh tak jauh dari pusat kota. Namun, siapa sangka, bila sekolah
tersebut malahan kekurangan guru.
Hasil pantauan saya, SDN 21 yang sempat menjadi korban keganasan tsunami pada 26 Desember 2004 silam sudah berubah. "Sekarang sudah ada kemajuanlah," ujar Ibu Dewi, seorang wali murid, Sabtu (5/10).
Menurut dia, sejak penggantian kepala sekolah baru, yang banyak membawa perubahanm guru, murid dan orang tua murid sangat senang dan menjadi lebih optimis dalam belajar di sana.
Kata Dewi, atas inisiatif kepala sekolah yang baru, para murid tidak lagi senam pagi mendengar hitungan gurunya. "Kini sudah ada tip dalam memutar kaset saat senam pagi," ujar dia lagi.
Kini, lanjut dia, sekolah juga sudah lebih bersih dibandingkan sebelumnya. Apalagi sekolah sudah memperkerjakan seorang pesuruh sekolah. "Keputusan itu diambil berdasarkan musyawarah dengan guru-guru," papar dia.
Tapi ada sedikit yang janggal dari pantauan saya, keberadaan pengurus sekolah ada tertera dalam struktur organisasi, namun, hanya namanya saja yang ada. Sedangkan orangnya tidak pernah ada.
Selama ini, kata guru bersama murid-murid membersihkan sekolah sekolah sebelum pelajaran dimulai. Namun, yang lebih memprihatinkan, di sekolah tersebut, mereka kekurangan guru.
Kepala SDN 21, Ibu Faridah, S.Pd menjelaskan, sekolah tersebut sebelumnya SDN 87, namun sekarang dilebur sesuai dengan urutannya menjadi SDN 21. "SD ini dibangun atas bantuan pemirsa RCTI," ujar dia.
Dia menyebutkan guru yang ada hanya empat orang saja. SDN 21 ini masih membutuhkan dua guru lagi ditambah satu guru olahraga lagi. Kabarnya kekurangan itu sudah berkali-kali diusulkan ke instansi terkait, tapi belum ada realisasinya.
Foto: Antara
Hasil pantauan saya, SDN 21 yang sempat menjadi korban keganasan tsunami pada 26 Desember 2004 silam sudah berubah. "Sekarang sudah ada kemajuanlah," ujar Ibu Dewi, seorang wali murid, Sabtu (5/10).
Menurut dia, sejak penggantian kepala sekolah baru, yang banyak membawa perubahanm guru, murid dan orang tua murid sangat senang dan menjadi lebih optimis dalam belajar di sana.
Kata Dewi, atas inisiatif kepala sekolah yang baru, para murid tidak lagi senam pagi mendengar hitungan gurunya. "Kini sudah ada tip dalam memutar kaset saat senam pagi," ujar dia lagi.
Kini, lanjut dia, sekolah juga sudah lebih bersih dibandingkan sebelumnya. Apalagi sekolah sudah memperkerjakan seorang pesuruh sekolah. "Keputusan itu diambil berdasarkan musyawarah dengan guru-guru," papar dia.
Tapi ada sedikit yang janggal dari pantauan saya, keberadaan pengurus sekolah ada tertera dalam struktur organisasi, namun, hanya namanya saja yang ada. Sedangkan orangnya tidak pernah ada.
Selama ini, kata guru bersama murid-murid membersihkan sekolah sekolah sebelum pelajaran dimulai. Namun, yang lebih memprihatinkan, di sekolah tersebut, mereka kekurangan guru.
Kepala SDN 21, Ibu Faridah, S.Pd menjelaskan, sekolah tersebut sebelumnya SDN 87, namun sekarang dilebur sesuai dengan urutannya menjadi SDN 21. "SD ini dibangun atas bantuan pemirsa RCTI," ujar dia.
Dia menyebutkan guru yang ada hanya empat orang saja. SDN 21 ini masih membutuhkan dua guru lagi ditambah satu guru olahraga lagi. Kabarnya kekurangan itu sudah berkali-kali diusulkan ke instansi terkait, tapi belum ada realisasinya.
Foto: Antara






